Berikut link vidio yang akan saya tanggapi

https://vt.tiktok.com/ZSQnyHCu5/

      Menurut saya, fenomena dalam video diatas adalah potret nyata dari runtuhnya moralitas dan hilangnya rasa hormat generasi muda terhadap institusi pendidikan, di mana seragam sekolah yang seharusnya menjadi simbol martabat, ilmu pengetahuan, dan masa depan bangsa justru didegradasi menjadi sekadar kostum ketat demi konsumsi visual yang dangkal di media sosial. Sangat memprihatinkan melihat bagaimana batas-batas kesopanan ditabrak begitu saja tanpa ada rasa malu, seolah nilai diri seorang pelajar kini hanya diukur dari seberapa banyak jempol dan penonton yang bisa diraih lewat gerakan tubuh yang sama sekali tidak mencerminkan nilai akademis.
      
      Tindakan memamerkan lekuk tubuh dengan seragam yang sengaja dipermak menjadi press body ini juga menunjukkan betapa akutnya krisis identitas yang dialami oleh para remaja tersebut, yang lebih memilih mengejar popularitas semu daripada prestasi yang nyata. Mereka tampak bangga mengeksploitasi diri mereka sendiri di lingkungan sekolah, mengubah tempat yang sakral untuk menuntut ilmu menjadi panggung hiburan murahan yang tidak mendidik, sekaligus mempertontonkan kemunduran berpikir yang sangat nyata di hadapan publik.
      
      Lebih jauh lagi, pembiaran terhadap aksi joget massal yang terorganisasi ini merefleksikan kegagalan total sistem pengawasan dan penegakan disiplin di lingkungan sekolah tersebut. Bagaimana mungkin sebuah institusi yang bertugas membentuk karakter dan akhlak mulia justru kecolongan atau bahkan menutup mata terhadap tren yang merusak citra akademis ini, sehingga memberikan ruang bagi tindakan yang mencoreng nama baik sekolah dan merugikan nama baik dunia pendidikan secara keseluruhan.
     
       Kita juga tidak boleh mengabaikan peran orang tua yang tampaknya abai dan gagal dalam memberikan fondasi moral serta batasan yang tegas kepada anak-anak mereka dalam memanfaatkan teknologi digital. Ketika ruang privasi dan etika berpakaian diabaikan demi sebuah tren viral, hal ini membuktikan bahwa ada pembiaran moral di tingkat keluarga, di mana nilai-nilai luhur ketimuran dan kesantunan telah digantikan oleh ambisi liar untuk eksis di dunia maya tanpa memedulikan dampak jangka panjang terhadap masa depan sang anak.

      Pada akhirnya, video ini bukan sekadar hiburan renyah yang bisa ditertawakan, melainkan sebuah tamparan keras bagi dunia pendidikan kita yang menunjukkan bahwa moralitas pelajar sedang berada di titik nadir. Jika tindakan memalukan seperti ini terus dianggap lumrah dan hanya dinilai sebagai kreativitas tanpa ada sanksi yang tegas, maka kita sedang berjalan menuju masa depan di mana intelektualitas digantikan oleh kedangkalan berpikir, dan kehormatan seorang pelajar tidak lebih berharga daripada jumlah views di media sosial.







Komentar

Postingan populer dari blog ini

Khulafaur Rasyidin